Qhiey's Teritory

Perbedaan Individual

Posted on: January 16, 2011


  1. Status Sosioekonomik

Status sosial ekonomi berasal dari tiga buah kata yang memiliki makna yang berbeda-beda. status adalah penempatan orang pada suatu jabatan tertentu sedangkan status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang manusia sebagai makluk sosial dalam masyarakatnya sedangkan Ekonomi adalah  berasal dari kata ekos dan nomos yang berarti rumah tangga. Yang secara harfiah keadaan rumah tangga.

Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa status sosial ekonomi merupakan faktor fisik yang dapat mempengaruhi hasil pada anak-anak (http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=Nzk2NQ)

Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di RT atau RW kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.

Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Hurlock (1981) menyatakan bahwa masa kritis pertumbuhan hasil belajar adalah pada usia sekolah dimana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Meskipun pada usia ini hasil belajar akan mudah untuk dibentuk, seringkali proses pembentukan ini dihalangi oleh faktor-faktor, baik internal maupun eksternal.Salah satu faktor eksternal yang turut berperan dalam menghambat pembentukan hasil belajar adalah SES. Siswa dengan SES rendah menjadi yakin bahwa dirinya tidak dapat berhasil di sekolah. Selain itu, teman-teman dan saudara-saudara mereka juga tidak pernah menyelesaikan sekolah sehingga bagi mereka merupakan masalah yang biasa saja (Garcia, 1991 dalam Woolfolk, 1993)

Latar belakang siswa yang kurang menguntungkan mungkin menjadi penyebab rendahnya tingkat kecerdasan mereka, tetapi mereka tetap memiliki peluang untuk berhasil bila memiliki hasil yang tinggi untuk belajar (Stipek dan Ryan, 1997). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar mencakup aspek budaya, keluarga, sekolah, dan pribadi siswa (Wlodkowski, 1990).

Siswa dengan latar belakang yang kurang beruntung hidup di tengah lingkungan kemiskinan yang tidak selalu mementingkan pendidikan karena ada kebutuhan lain yang lebih didahulukan. Sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta permasalahan dalam keluarga sebagai akibat dari permasalahan ekonomi juga menghambat anak dalam menumbuhkan hasil belajar (Limyati, 1999 dalam http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=Nzk2NQ)

Dari pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.

2Intellegence Qualient

Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.

Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif

Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor-g maupun kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:

  1. Pemahaman dan kemampuan verbal
  2. Angka dan hitungan
  3. Kemampuan visual
  4. Daya ingat
  5. Penalaran
  6. Kecepatan perseptual

Skala Wechsler yang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan tampilan (PIQ)

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu:

  1. Biologis
  2. Lingkungan
  3. Budaya
  4. Bahasa
  5. Masalah etika

3Kemaampuan Intelektual

Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental -berpikir, menalar, dan memecahkan masalah.Individu dalam sebagian besar masyarakat menempatkan kecerdasan, dan untuk alasan yang tepat, pada nilai yang tinggi.Individu yang cerdas juga lebih mungkin menjadi pemimpin dalam suatu kelompok.

Tujuh dimensi yang paling sering disebutkan yang membentuk kemampuan intelektual adalah:

  1. kecerdasan angka
  2. pemahaman verbal
  3. kecepatan persepsi
  4. penalaran induktif
  5. penalaran deduktif
  6. visualisasi spasial
  7. daya ingat

4Pendekatan Proses

Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang

pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses

mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi

peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian

integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman

yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.

Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam

setiap proses pendidikan yang dialaminya.

Untuk menjadikan peristiwa belajar sebagai proses mengalami, tentu harus

dipikirkan cara atau metode yang sesuai. Pola pengajaran yang selama ini

dilakukan, di mana guru dan siswa atau siswa dengan siswa lain saling

berjarak, harus ditinggalkan. Pola pengajaran yang lebih interaktif, yang

melibatkan peran serta lebih besar dari siswa harus mulai dikembangkan.

Meskipun bukan hal yang mudah untuk mendapatkan materi pelajaran sebagai

suatu pengalaman bagi siswa, namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, keberanian, dan kesetiaan untuk

menjalani proses ini.

Kedua, proses menemukan. Setelah mengalami secara personal, peserta didik

diharapkan dapat menemukan sendiri, baik konsep, prinsip maupun nilai-nilai

dari materi yang telah dipelajarinya. Dengan menemukan sendiri, pemahaman

siswa tentang materi pelajaran pun lebih utuh dan akan bertahan lebih lama

dibandingkan jika siswa menghafalkan materi tersebut. Proses menemukan ini

juga akan memberikan satu kebanggaan sekaligus rangsangan untuk kembali

berproses dan menemukan yang lebih banyak lagi.

Di sisi lain, proses ini akan membantu siswa dalam membangun karakter

pribadinya. Diharapkan nilai-nilai yang ditemukan akan menjadi inspirasi

dalam setiap langkah dan tindakan yang diambil dalam hidupnya, sehingga

peserta didik lebih mempunyai karakter pribadi yang tercerminkan dalam

sikap dan perilakunya sebagai yang “berpendidikan”. Pengalaman selama ini,

sulit untuk menemukan siswa yang memiliki karakter pribadi yang kuat,

sehingga seringkali kesulitan untuk memilih siswa untuk suatu kegiatan yang

mensyaratkan karakter pribadi yang cukup matang.

Konsekuensi dari kedua hal di atas tentu tidak gampang. Membutuhkan kerja

keras, keterbukaan dan kemauan untuk selalu memperbarui diri dan membongkar

budaya “mapan” yang stagnan. Dibutuhkan kerelaan dari semua pihak yang

terlibat untuk setia pada proses yang sedang berlangsung. Bukan hanya

siswa, tetapi juga guru. Pola-pola lama dalam pengajaran pun harus

diperbarui.

Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas untuk menemukan pola pengajaran

baru yang lebih sesuai. Guru harus rela untuk melepaskan diri dari yang

serba tahu, menjadi pendamping dan fasilitator bagi peserta didik untuk

mengalami dan menemukan sendiri. Atau, bahkan bersama-sama dengan peserta

didik sebagai orang yang belajar.

Dalam pendekatan proses ini, juga dibutuhkan ruang refleksi bersama. Dari

refleksi inilah pengalaman-pengalaman itu dikristalkan untuk dimaknai

bersama sebagai temuan nilai yang bisa dimiliki bersama. Kiranya, kurikulum

berbasis kompetensi akan semakin lengkap apabila pendekatan proses ini

diikutsertakan dalam implementasinya. Dengan begitu, pendidikan akan

menjadi proses yang menyeluruh, tidak hanya aspek kognitif yang

dikembangkan. Namun aspek-aspek yang lain, seperti aspek afektif, aspek

psikomotorik, sikap dan perilaku pun ikut dikembangkan.

4 Responses to "Perbedaan Individual"

karena manusia adalah makhluk yang unik.

yups, bener sekali,,🙂

ijin nyalin yaa
buat referensi tugas

makasih : )

yapz,,
semoga bermanfaat…
^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Chat wiTh me

Qyu Qhiey =QQ=

Makasiiih udah berkunjung ke bLog saya ini, semoga bermanfaat bagi pembaca semua,, bagi yang ingin menyun ting isi blog ini dipersilahkan namun dengan syarat harus meninggalkan comment d postingan yang d kutip,, terima kasiih,,,

Blog Stats

  • 61,256 hits
January 2011
M T W T F S S
« Nov   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

%d bloggers like this: