Qhiey's Teritory

Keunggulan & Manfaat Belajar Penemuan Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas 6 SD

Posted on: September 27, 2010

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun pengetahuan baru

berdasarkan pengalaman atau pengalaman yang sudah dimiliki.[Jerome Bruner,1999]

Selain itu proses pembangunan bias melalui Asimilasi atau Akomodasi[MC Mahon.1996]

Pembelajaran matematuka dalam pandangan konstruktivis menurut Hudojo[1998] mempunyai cirri – cirri seperti : Siswa terlibat aktif dalam belajarnya dan Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu skemata yang dimiliki siswa.

  1. Tujuan

Belajar penemuan sudah bisa diterapkan secara dini pada siswa sekolah dasar. Atau lebih tepatnya diterapkan pada siswa kelas 6 SD karena pada posisi tersebut anak sudah mulai bisa berpikir sesuai yang seharusnya. Pada usia tersebut siswa siudah bisa memikirkan hal – hal baru yang bisa memberikan pengetahuan baru yang berguna. Karena dengan menemukan sendiri, materi tersebut akan lebih mudah diingat dan akan lebih lama terekam dalam memori para siswa.


BAB II

Keunggulan  & Manfaat Belajar Penemuan

Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas 6 SD

  1. Prolog

Untuk mewujudkan proses pembelajaran matematika yang lebih bermakna dengan

hasil prestasi siswa yang tinggi ,guru harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan

strategi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa untuk

memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interksi

antar siswa ,siswa dengan guru ,lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka

pencampaian kompentensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud

melalui penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada siswa.

Pada pembelajaran matematika di sekolah ,sebagian besar guru masih mendominasi

proses mengajar belajar dengan menerapkan pendekatan pembelajaran konvensiponal dan

methode utama.Pada umumnya guru memulai pembelajaran ,langsung pada pemaparan

materi,kemudian pemberian contoh guru dan selanjutnya mengevaluasi siswa melalui

latihan soal. Siswa menerima pelajaran matematika secara pasif dan bahkan hanya

menghafal rumus – rumus tanpa memahami makna dan manfaat dari apa yang dipelajari.

Akibatnya prestasi belajar matematika di sekolah masih relative rendah dan tidak

menmgalami peningkatan yang berarti.

Seiring diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan guru

dapat meningkatkan prestasi siswa khususnya pada pelajaran matematika dengan

berkreasi dan berinovasi menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran yang

berkembang saat ini. Dengan penerapan belajar penemuan diharapkan siswa akan lebih lama mengingat rumus – rumus matematika yang berhasl ditemukannya sendiri.

  1. Permasalahan

Dalam kegiatan belajar-mengajar Guru memegang peranan kunci dalam usaha pengembangan kemampuan berpikir kritis. Untuk itu Guru perlu memahami strategi pembelajaran atau pendekatan-pendekatan pembelajaran yang tepat agar siswa mampu berpikir kritis dan mendorong siswa agar berpikir kritis. Pott (1994) menyatakan ada tiga strategi spesifik untuk pembelajaran kemampuan berpikir kritis, yakni membangun kategori, menentukan masalah, dan menciptakan lingkungan yang mendukung.

Kategori dibangun berdasarkan konsep yang ingin disampaikan Guru dalam pembelajaran. Strategi membangun kategori merupakan penalaran induktif yang membantu siswa mengkategorikan informasi dengan penemuan aturan dibandingkan hanya dengan mengingat. Melalui pengamatan sifat-sifat bersama yang dimiliki dan sifat-sifat yang tidak dimiliki siswa membangun pemahaman suatu konsep. Pembelajaran aktif seperti itu menghasilkan pemahaman konsep yang baik dan bertahan lama dan lebih memungkinkan untuk mengaitkan materi dibandingkan dengan metode pengajaran langsung.

Untuk mencapai suatu pemahaman konsep, identifikasi masalah dapat membantu menciptakan suasana berpikir bagi peserta didik. Keberhasilan dalam pembelajaran ini ditentukan pula oleh terciptanya keadaan pada saat proses pembelajaran yang menyenangkan.
Strategi yang ketiga menurut Pott (1994) adalah menciptakan lingkungan yang mendukung. Berpikir kritis dalam kelas difasilitasi oleh lingkungan fisik dan intelektual yang mendorong semangat untuk menemukan. Salah satu lingkungan fisik yang mendukung berpikir kritis dalam kelas adalah susunan tempat duduk siswa. Bila tempat duduk siswa disusun sedemikian sehingga siswa dapat saling berinteraksi dengan siswa yang lain dan dengan Guru ini membantu siswa untuk berpikir kritis.

Lingkungan intelektual yang mendorong siswa untuk menemukan dapat diciptakan melalui pembelajaran penemuan. Metode penemuan merupakan teknik pengajaran yang dalam pelaksanaannya siswa diarahkan untuk menemukan informasi dari bahan ajar yang dipelajarinya. Pembelajaran dengan penemuan merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk aktif. Siswa kelas 6 SD yang sudah mulai beranjak remaja, pasti sudah bisa untuk berpikir lebih kritis dan memikirkan suatu inovasi baru atau keinginan untuk menemukan rumus – rumus baru dari suatu soal yang yang ditemuinya.

Menurut Ruseffendi (1988) metode penemuan adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan: sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dengan demikian dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pengalamannya menyelesaikan masalah bukan melalui transmisi dari Guru.
Salah satu tujuan pembelajaran penemuan adalah agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis. Hal ini disebabkan siswa melakukan aktivitas mental sebelum materi yang dipelajari dapat dipahami. Aktivitas mental tersebut misalnya menganalisis, mengklasifikasi, membuat dugaan, menarik kesimpulan, menggeneralisasi dan memanipulasi informasi. Bruner (Dahar, 1988) menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik.
Ruseffendi (1988) menyatakan belajar penemuan itu penting, sebab matematika adalah bahasa yang abstrak : konsep dan lain-lainnya itu akan lebih melekat bila melalui penemuan dan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Menurut Ernest (1991) bahwa belajar matematika adalah pertama dan paling utama adalah aktif, dengan siswa belajar melalui permainan, kegiatan, penyelidikan, proyek, diskusi, eksplorasi, dan penemuan.
Dreyfus (1991) menegaskan bahwa penemuan, intuisi, dan memeriksa kembali (mengecek) adalah hanya permulaan dari serangkaian proses matematika, tujuaannya tetap memahami hubungan yang abstrak. Oleh karena itu aktivitas siswa harus dari penemuan, intuisi dan memeriksa kembali (mengecek) menuju proses-proses yang lebih formal seperti mendefinisikan dan membuktikan.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam mengajar matematika, Guru tidak perlu menjejalkan seluruh informasi kepada siswa. Guru perlu membimbing suasana belajar siswa sehingga mencerminkan proses penemuan bagi siswa. Materi yang disajikan kepada siswa bentuk akhirnya atau cara mencarinya tidak diberitahukan. Siswa diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan informasi dari bahan ajar yang dipelajari, Guru hanya sebagai fasilitator saja.

Belajar melalui penemuan berpusatkan pada siswa. Belajar menemukan, menyebabkan siswa berkembang potensi intelektualnya. Dengan menemukan hubungan dan keteraturan dari materi yang sedang dipelajari, siswa menjadi lebih mudah mengerti struktur materi yang dipelajari. Siswa lebih mudah mengingat konsep, struktur atau rumus yang telah ditemukan.

Dahar (1988) menyatakan beberapa keuntungan belajar menemukan yaitu

  1. pengetahuan bertahan lama atau lebih mudah ingat.
  2. hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dengan kata lain konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru.
  3. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.

Selain beberapa keuntungan dari belajar menemukan seperti yang dijelaskan di atas, belajar menemukan juga mempunyai kelemahan yaitu belajar menemukan membutuhkan waktu persiapan dan belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima, kelas tidak terlalu besar agar siswa mendapat perhatian Guru, dan belajar menemukan tidak menjangkau seluruh materi yang dianjurkan oleh kurikulum. Hal ini sejalan dengan pendapat Dreyfus (1991) yang menyatakan bahwa belajar dengan penemuan menghabiskan waktu dan ini salah satu alasan mengapa Guru cenderung tidak menggunakan penemuan.
Melihat kelemahan belajar penemuan, maka diperlukan kombinasi dalam pembelajarannya, yaitu Guru tidak sepenuhnya melepas siswa untuk menemukan konsep, prosedur dan prinsip sendiri melainkan dapat berkolaborasi dengan teman. Untuk memperkecil (mengurangi) kelemahan-kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan Guru. Quirk (1989) menyatakan bahwa guru matematika yang baik membantu siswanya menemukan matematika.

Biknell-Holmes dan Hoffman (Castronova, 2002: 2) menjelaskan tiga ciri utama belajar menemukan

  1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan.
  2. Berpusat pada siswa.
  3. Kegiatannya untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengatahuan yang sudah ada.

Pada metode penemuan konsep dan prosedur yang dipelajari siswa merupakan hal yang baru, belum diketahui sebelumnya. Oleh karena itu beberapa instruksi atau petunjuk perlu diberikan kepada siswa apabila mereka belum mampu menunjukkan ide atau gagasan. Dalam menemukan konsep dan prosedur yang dipelajari, sebaiknya siswa tidak dilepas begitu saja bekerja untuk menemukan, tetapi diberikan bimbingan agar siswa tidak tersesat. Bimbingan tersebut dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat.

Untuk sampai kepada konsep yang harus ditemukan, sangat tergantung kepada pengetahuan siap siswa dan pengetahuan baru siswa yang baru saja diperolehnya. Oleh karena itu metode penemuan yang diterapkan dalam proses pembelajaran adalah metode penemuan terbimbing dan dibawakan melalui bekerja dalam kelompok. Dengan kata lain metode penemuan terbimbing dengan setting belajar kooperatif.

==SELESAI==

1 Response to "Keunggulan & Manfaat Belajar Penemuan Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas 6 SD"

Trims, sangat bermanfaat. Sebaiknya dilengkapi juga dengan tinjauan pustaka.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Chat wiTh me

Qyu Qhiey =QQ=

Makasiiih udah berkunjung ke bLog saya ini, semoga bermanfaat bagi pembaca semua,, bagi yang ingin menyun ting isi blog ini dipersilahkan namun dengan syarat harus meninggalkan comment d postingan yang d kutip,, terima kasiih,,,

Blog Stats

  • 61,256 hits
September 2010
M T W T F S S
« Jul   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Categories

%d bloggers like this: